Desa Ciwaru Ciemas, Gerbang Geopark UNESCO Sukabumi

Daftar Isi
Pemandangan Desa Ciwaru Kecamatan Ciemas pusat Geopark Ciletuh UNESCO

PoinTru.com - Anda tahu nggak, ada sebuah desa di selatan Sukabumi yang dulunya hanya bisa dijangkau lewat laut, naik perahu, dengan risiko yang tidak kecil setiap kali ombak tinggi? Desa Ciwaru di Kecamatan Ciemas namanya. Saya pertama kali membaca soal sejarahnya dan langsung tercengang. Sekarang desa itu sudah jadi pusat UNESCO Global Geopark yang diakui dunia. Transformasinya luar biasa, dan cerita di baliknya lebih menarik dari yang Anda bayangkan.

Desa Ciwaru terletak di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada koordinat 7°13'4"S 106°28'49"E. Posisinya langsung menghadap Samudra Hindia di sisi barat, menjadikannya titik akses maritim penting di kawasan Jampang. Di antara seluruh desa di Kecamatan Ciemas, Ciwaru mencatat kepadatan penduduk tertinggi, yaitu 5,17 jiwa per hektar, jauh di atas rata-rata desa tetangganya.

Pada 17 April 2018 di Paris, Prancis, kawasan Ciletuh-Palabuhanratu resmi mendapat status UNESCO Global Geopark. Desa Ciwaru menjadi pusat administrasi dan operasional dari geopark seluas 126.100 hektar ini.

Desa Ciwaru dan Sejarah yang Tidak Banyak Orang Tahu

Nama asli desa ini bukan Ciwaru. Pemukiman ini awalnya disebut Cikalong Heubeul, didirikan oleh tiga bersaudara keturunan Kerajaan Pajajaran yang juga memiliki garis darah dari Cirebon dan Banten. Mereka adalah Eyang Lamping, Eyang Roplan, dan Mbah Durak. Menurut tradisi lisan yang masih dijaga warga setempat, Mbah Durak bersama dua pengawalnya, Mbah Gimbling dan Mbah Suranimang, memilih menetap dan membuka lahan di pesisir Ciletuh ini.

Mbah Durak dimakamkan di Kampung Cikalong Citiis, yang kini masuk wilayah Desa Mekarsakti. Fakta ini menarik buat Saya, karena menunjukkan bahwa Ciwaru bukan hanya desa tua, tapi juga "rahim" dari desa-desa lain yang kemudian lahir di sekitarnya.

Titik balik paling dramatis terjadi pada 1976. Saat itu Ciwaru masih sepenuhnya terisolasi dari daratan. Kepala Desa kelima, H. Moch. Rohmi, memimpin gerakan gotong royong yang berhasil membangun jalan sepanjang 18 kilometer dalam waktu 40 hari saja. Empat puluh hari! Jalan itu menghubungkan Ciwaru ke pusat kecamatan dan kewedanaan, membuka pintu distribusi hasil laut dan pertanian ke pasar-pasar regional.

Dimensi GeografisData
Luas Kecamatan Ciemas30.168 Ha
Kepadatan Penduduk Ciwaru5,17 orang/Ha (tertinggi di kecamatan)
Jarak ke Ibu Kota Kabupaten55 Km
Jarak ke Ibu Kota Provinsi113 Km
Jarak ke Ibu Kota Negara223 Km
Luas Geopark Ciletuh126.100 Ha (8 kecamatan, 74 desa)

Pemekaran Wilayah dari Ciwaru ke Desa-Desa Lainnya

Pertumbuhan penduduk dan kebutuhan layanan publik yang makin besar mendorong Ciwaru melepas sebagian wilayahnya menjadi desa-desa mandiri. Prosesnya bertahap dan berlangsung selama beberapa dekade.

  • Desa Mekarjaya dimekarkan pada tahun 1979 sebagai entitas pertama yang pisah dari Ciwaru
  • Desa Tamanjaya terbentuk dari pemisahan Kampung Cirameng karena kepadatan penduduk yang terus bertambah
  • Desa Mekarsakti menyusul sebagai entitas mandiri untuk mengelola potensi daratan di sisi selatan
  • Ciwaru tetap sebagai desa induk yang memegang peran sentral hingga hari ini

Setiap desa pemekaran itu kemudian berkembang dengan spesialisasi ekonominya sendiri. Tamanjaya, misalnya, fokus ke pertanian dataran tinggi, sementara Ciwaru mempertahankan dominasinya sebagai pusat perikanan dan pariwisata pesisir. Pembagian kerja yang organik, bukan dipaksakan dari atas.

Pantai Palangpang di Desa Ciwaru pusat aktivitas nelayan Amfiteater Ciletuh formasi geologi di kawasan Desa Ciwaru Curug Cimarinjung air terjun ikonik dekat Desa Ciwaru Ciemas

Geologi Desa Ciwaru yang Bikin Para Ilmuwan Tertarik

Ini bagian yang paling Saya suka dari cerita Ciwaru. Secara geologi, desa ini berada di atas "Geoarea Ciletuh" dengan tema subduction zone uplifted rocks. Artinya, yang kita injak di sini adalah batuan dasar samudra dan kerak bumi tertua di Jawa Barat yang muncul ke permukaan akibat proses tektonik kompleks jutaan tahun silam.

Departemen Geografi Universitas Indonesia tercatat secara konsisten melakukan pengambilan data fisik dan sosial di wilayah ini. Bukan tanpa alasan. Singkapan batuan langka dan fosil tektonik yang ada di sini menjadikan Ciwaru sebagai laboratorium alam yang sulit ditandingi.

Yang paling ikonik adalah mega amfiteater Ciletuh. Struktur sesar normal ini membentuk cekungan besar berbentuk tapal kuda yang terbuka ke arah laut. Dinding amfiteaternya dihiasi deretan air terjun. Dari Puncak Darma di Desa Girimukti, panorama lengkapnya bisa terlihat, pegunungan, lembah purba, dan pantai-pantai Ciwaru seperti Pantai Palangpang dan Pantai Cikadal menyatu dalam satu bingkai pemandangan.

Kategori KeragamanUnsur Strategis di Kawasan Ciwaru
Keragaman GeologiAmfiteater Ciletuh, Batuan Ofiolit, Kompleks Melange, Fosil Tektonik
Keragaman HayatiHutan Konservasi Cipeucang, Hutan Mangrove, Budidaya Ikan Sidat
Keragaman BudayaTradisi Hari Nelayan, Batik Pakidulan, Situs Megalitikum Cengkuk dan Kujang

Ekonomi Ciwaru, Antara Sawah dan Samudra Hindia

Desa Ciwaru punya keberuntungan ganda yang tidak dimiliki banyak desa lain. Di daratan, ada ekosistem sawah yang subur di kaki tebing amfiteater. Di laut, ada Samudra Hindia yang produktif. Dua sumber kehidupan ini berjalan beriringan selama puluhan tahun.

Pantai Palangpang di Kampung Palangpang berfungsi sebagai pusat aktivitas nelayan. Ada tempat pelelangan ikan (TPI) di sana. Nelayan Ciwaru bersaing dengan sentra perikanan lain di Sukabumi Selatan seperti Pelabuhanratu, Cisolok, dan Ujunggenteng. Bukan persaingan kecil.

Yang menarik, wilayah ini juga mulai mengembangkan budidaya ikan sidat di sekitar muara sungai yang ditutupi mangrove. Sidat punya nilai ekonomi tinggi di pasar Jepang. Potensinya besar, walau butuh pengelolaan ekstra hati-hati agar tidak merusak ekosistem yang sudah ada.

Di sektor pertanian, ada inovasi yang cukup cerdas. Desa Wisata Hanjeli di kawasan Ciemas mengajak wisatawan mengenal proses panen tanaman hanjeli, dari memotong menggunakan etem hingga menumbuk pakai lisung. Pertanian bertemu pariwisata, dan hasilnya tidak mengecewakan.

Nelayan di Pantai Palangpang Desa Ciwaru Ciemas Budidaya ikan sidat di kawasan hutan mangrove Ciwaru Destinasi wisata air terjun sekitar Desa Ciwaru Kecamatan Ciemas

Destinasi Wisata di Sekitar Desa Ciwaru

Kalau Anda berencana berkunjung, siapkan diri untuk kewalahan memilih. Destinasi wisata di wilayah ini mencakup spektrum yang lebar, dari air terjun sampai situs geologi, dari pantai terpencil sampai pulau-pulau kecil di lepas pantai.

  • Curug Cimarinjung yang jadi ikon kawasan, plus Curug Sodong, Cikanteh, Awang, Tengah, dan Puncakmanik
  • Pantai Palangpang sebagai pusat aktivitas, Pantai Cikadal untuk yang ingin lebih sepi
  • Pulau Mandra, Pulau Kunti, dan Pulau Manuk untuk wisata pulau
  • Batu Batik dan Batu Naga sebagai situs geologi dengan pola perlapisan batuan yang unik
  • Puncak Darma, Panenjoan, dan Puncak Tugu sebagai titik pandang amfiteater

Saat musim libur, angka kunjungan bisa tembus 28 ribu orang dalam satu periode. Angka itu bukan kecil untuk wilayah yang infrastrukturnya masih terus berkembang. Manajemen kerumunan dan fasilitas sanitasi jadi tantangan nyata yang harus diantisipasi.

Nama AkomodasiFasilitas UtamaKarakteristik Lokasi
Ciletuh Suite HomestayAC, Restoran, WiFi, ParkirDekat Pantai Palangpang dan Curug Cimarinjung
RedDoorz Geopark CiletuhWater Heater, Alat Mandi, WiFiLokasi strategis dekat pusat aktivitas
Bungalo TradisionalAC, Kolam Renang, Akses PantaiDesain lokal untuk wisatawan premium
Ciletuh HillsRestoran (08.00-21.00), Parkir LuasDi area perbukitan dengan pemandangan terbuka

Akses ke Ciwaru Sebelum dan Sesudah Sabuk Geopark

Sebelum 2017, perjalanan ke Ciwaru adalah perkara tersendiri. Jalan sempit, waktu tempuh panjang, dan kondisi jalan yang tidak selalu bersahabat. Tapi pembangunan "Sabuk Geopark" atau Jalur Loji-Puncak Darma sepanjang 33 kilometer mengubah segalanya.

Jalur ini menghubungkan Simpang Loji dengan Puncak Darma dan turun langsung ke Ciwaru. Buat yang dari Jakarta atau Bandung, waktu perjalanan terpangkas cukup signifikan.

Ada tiga pilihan rute yang bisa Anda pertimbangkan. Rute Cikidang menawarkan jarak lebih pendek sekitar 33 km dari Sukabumi, tapi jalurnya ekstrem dengan tikungan tajam di sisi tebing dan jurang. Bisa hemat 1,5 hingga 2 jam dari Jakarta, tapi butuh konsentrasi penuh saat berkendara. Rute Cibadak lebih landai dan aman untuk perjalanan malam, cocok untuk yang membawa keluarga. Jalur Sabuk Ciletuh via Loji-Puncak Darma memberikan pengalaman visual paling spektakuler, dengan laut biru terlihat dari ketinggian dan kondisi jalan yang mulus terawat.

Curah hujan tinggi di kawasan ini sering memicu longsor di Jalur Loji. Sebelum berangkat, pastikan Anda mengecek kondisi cuaca dan status jalan terbaru, terutama di musim penghujan.

Budaya dan Tradisi Desa Ciwaru yang Masih Terjaga

Saya selalu percaya bahwa desa yang kuat bukan hanya yang punya alam indah, tapi juga yang masyarakatnya masih memegang tradisi. Dan Ciwaru ada di kategori itu.

Perayaan Hari Nelayan di desa ini sudah berlangsung selama 68 tahun berturut-turut. Bukan sekadar seremoni tahunan, ini bentuk nyata rasa syukur komunitas pesisir atas hasil laut. Rangkaian acaranya meliputi ritual syukuran laut, pertunjukan kesenian tradisional seperti angklung, sisingaan, dan buncis, serta bazar UMKM yang berlangsung satu minggu penuh.

Ada juga kesenian Jipeng, perpaduan musik tradisional dengan instrumen warisan kolonial seperti terompet dan drum, biasanya tampil saat upacara Seren Taun. Dan Ngagondang, tradisi menumbuk padi bersama menggunakan lesung, yang kini juga menjadi atraksi wisata edukatif.

Oh iya, di kawasan Ciemas juga ada situs megalitik yang tidak banyak orang perhatikan. Situs Tugu Cengkuk punya bangunan megalitik lengkap berupa menhir, batu saji, dan punden berundak. Ada juga Situs Batu Kujang. Buat pecinta sejarah, ini tambang emas informasi.

Di bidang ekonomi kreatif, perajin lokal seperti Yudi di Kampung Ciloa mengolah limbah kayu dan bambu menjadi teko, gelas, dan ukiran patung yang dipasarkan lewat media sosial. Kerajinan dari bahan kerang juga populer sebagai oleh-oleh, dari perhiasan sampai pigura hias.

Fasilitas Pendidikan dan Pojok Geopark untuk Generasi Muda

Salah satu hal yang Saya temukan cukup unik di Ciwaru adalah keberadaan "Pojok Geopark" di SDN Tegalcaringin. Fasilitas non-formal ini didirikan pada 2017 di bawah naungan UNESCO, dan fungsinya sebagai pusat literasi kebumian bagi anak-anak setempat. Nilai-nilai konservasi geopark ditanamkan sejak dini. Pendekatan yang menurut Saya jauh lebih efektif dibanding kampanye dari atas ke bawah.

Fasilitas pendidikan formal di desa ini mencakup SD Negeri Ciwaru, MTSS Ciwaru Al-Furqon di Dusun Cikanteh, SMP Negeri 1 Ciemas, dan berbagai madrasah di sekitar wilayah. Museum Geopark di Pusat Informasi Ciletuh-Palabuhanratu (GIC) juga menambah dimensi edukasi bagi pengunjung dari luar daerah.

FAQ Seputar Desa Ciwaru Kecamatan Ciemas

Di mana letak Desa Ciwaru secara administratif?
Desa Ciwaru terletak di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Koordinatnya berada di 7°13'4"S 106°28'49"E, dengan posisi menghadap langsung ke Samudra Hindia di sisi barat wilayahnya.
Kenapa Desa Ciwaru jadi pusat Geopark Ciletuh?
Ciwaru memiliki posisi strategis sebagai titik administrasi dan operasional kawasan geopark. Di sinilah pusat informasi, akses utama wisatawan, dan berbagai fasilitas pendukung geopark terpusat. Kawasan ini mendapat status UNESCO Global Geopark pada 17 April 2018 di Paris, Prancis.
Apa saja objek wisata unggulan di dekat Desa Ciwaru?
Beberapa destinasi utama meliputi Pantai Palangpang, Curug Cimarinjung, Curug Sodong, Puncak Darma sebagai viewpoint amfiteater, serta Pulau Mandra dan Pulau Kunti untuk wisata bahari. Situs geologi seperti Batu Batik dan Batu Naga juga jadi daya tarik tersendiri.
Bagaimana cara terbaik menuju Desa Ciwaru dari Jakarta?
Ada tiga rute utama. Rute Cikidang lebih pendek tapi jalurnya menantang dengan tikungan tajam. Rute Cibadak lebih aman dan landai, cocok untuk perjalanan malam. Jalur Sabuk Geopark via Loji-Puncak Darma memberikan pemandangan paling spektakuler dengan kondisi jalan yang terawat baik.
Apakah ada tradisi budaya khas di Desa Ciwaru?
Ya, Perayaan Hari Nelayan yang sudah berlangsung 68 tahun berturut-turut adalah tradisi paling ikonik. Ada juga kesenian Jipeng, tradisi Ngagondang, serta situs megalitik seperti Situs Tugu Cengkuk yang masih terjaga di kawasan Ciemas.

Akhir Kata

Jadi, intinya Desa Ciwaru bukan sekadar destinasi wisata akhir pekan. Ini adalah desa dengan lapisan sejarah yang dalam, transformasi ekonomi yang nyata, dan posisi internasional yang tidak main-main sebagai jantung UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Dari pengalaman Saya mendalami profil desa ini, ada satu pelajaran yang terus terngiang, bahwa kemajuan paling solid lahir dari gotong royong warga yang tahu apa yang mereka punya dan berani merawatnya. Artikel tentang Desa Ciwaru Kecamatan Ciemas ini hopefully bisa ngasih Anda gambaran yang lebih jelas sebelum berkunjung atau sekadar memuaskan rasa ingin tahu. Kalau ada pertanyaan atau pengalaman serupa, feel free buat komen di bawah ya!

Baca artikel lainnya, cek aja di Sitemap.

Posting Komentar

Baca Juga Artikel Terbaru

Memuat artikel...