7 Fakta Desa Ciemas yang Wajib Anda Tahu
PoinTru.com - Saya selalu penasaran dengan daerah-daerah di Indonesia yang menyimpan potensi luar biasa tapi belum banyak disorot. Desa Ciemas di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, adalah salah satunya. Desa ini bukan sekadar pusat pemerintahan kecamatan terluas di Sukabumi, tapi juga berada di jantung kawasan yang punya batuan purba berumur jutaan tahun, geopark status UNESCO, dan proyek energi angin yang disebut-sebut akan jadi terbesar di Asia. Satu desa, banyak cerita besar.
Saya rangkum 7 fakta paling menarik tentang Desa Ciemas yang menurut Saya perlu Anda ketahui, terutama kalau Anda tertarik dengan wisata alam, energi hijau, atau sekadar ingin tahu lebih dalam soal kawasan tersembunyi di Sukabumi Selatan ini.
7 Fakta Menarik Desa Ciemas yang Jarang Dibahas
1. Kecamatan Terluas di Sukabumi, Tapi Jauh dari Mana-mana
Kecamatan Ciemas bukan kecamatan kecil. Luasnya sekitar 314 km², menjadikannya salah satu kecamatan terbesar di Kabupaten Sukabumi. Tapi kebesaran itu datang dengan harga yang tidak murah, yakni keterpencilan. Jarak dari Palabuhanratu sebagai ibu kota kabupaten saja sudah sekitar 55 sampai 61 kilometer. Ke Bandung? Sekitar 214 kilometer. Bayangkan kalau ada kebutuhan darurat medis di sana.
Desa Ciemas sendiri adalah pusat dari kecamatan ini, berdiri sebagai titik koordinasi administratif untuk sembilan desa yang ada di bawah naungannya. Masing-masing desa punya karakter unik, dari yang pesisir sampai yang di ketinggian perbukitan.
| Nama Desa | Kode Kemendagri | Klasifikasi Risiko Bencana |
|---|---|---|
| Desa Ciemas | 32.02.22.2001 | Risiko Tinggi (Longsor) |
| Desa Cibenda | 32.02.22.2002 | Risiko Menengah |
| Desa Ciwaru | 32.02.22.2003 | Risiko Rendah |
| Desa Girimukti | 32.02.22.2004 | Risiko Tinggi |
| Desa Mandrajaya | 32.02.22.2005 | Risiko Menengah |
| Desa Mekarjaya | 32.02.22.2006 | Risiko Menengah |
| Desa Mekarsakti | 32.02.22.2007 | Risiko Tinggi |
| Desa Sidamulya | 32.02.22.2008 | Risiko Menengah |
| Desa Tamanjaya | 32.02.22.2009 | Risiko Tinggi |
Menariknya, justru keterpencilan inilah yang menjaga keaslian alam dan budaya lokal di sana. Kawasan ini tidak terganggu industrialisasi massal seperti wilayah utara Sukabumi. Dan itu, menurut Saya, adalah aset yang nilainya tidak bisa diukur dengan uang.
2. Berada di Mega-Amfiteater Ciletuh, Formasi Geologi Langka di Asia
Saya baru paham betapa spesialnya tanah di bawah Desa Ciemas setelah membaca tentang geologi kawasan ini. Wilayahnya berada di tengah-tengah apa yang disebut Mega-Amfiteater Ciletuh, sebuah lembah raksasa berbentuk tapal kuda yang terbuka ke arah Samudera Hindia dengan diameter belasan kilometer.
Amfiteater ini bukan terbentuk karena erosi biasa. Prosesnya melibatkan sesar normal besar-besaran yang membuat blok batuan turun secara bertahap selama jutaan tahun. Hasilnya adalah dinding tebing curam yang eksotis dan jadi tempat munculnya puluhan air terjun yang cantik.
Lebih jauh lagi, batuan di kawasan Ciemas termasuk yang tertua di Pulau Jawa. Ini bukan klaim lebay, ini fakta geologi yang diakui secara internasional. Ada singkapan batuan dari proses subduksi lempeng tektonik purba yang membuat para peneliti dari seluruh dunia datang ke sini untuk riset. Tidak heran kalau UNESCO akhirnya memberikan pengakuan resmi.
3. Negeri Seribu Curug, Julukan yang Tidak Berlebihan
Ciemas punya julukan "negeri seribu curug". Lebay? Tidak juga, ternyata. Karena topografi perbukitan yang curam dan curah hujan yang tinggi, mencapai sekitar 3.613 mm per tahun, kawasan ini dipenuhi sungai-sungai deras yang jatuh dari tebing-tebing tinggi membentuk air terjun yang luar biasa indah.
Beberapa yang paling terkenal dan sudah masuk radar wisatawan internasional di antaranya adalah Curug Cimarinjung yang punya ketinggian 45 meter dan berdiri di atas batuan tertua di Jawa, lalu Curug Sodong yang punya keunikan berupa "ruang gua" tersembunyi di balik aliran airnya, kemudian Curug Awang yang sering disebut sebagai Niagara-nya Sukabumi karena bentangan airnya yang lebar, dan Curug Puncak Manik yang terkenal dengan fenomena pelangi dari semburan uap airnya.
- Curug Cimarinjung, tinggi 45 meter, berdiri di atas batuan tertua di Jawa
- Curug Sodong, air terjun kembar dengan gua tersembunyi di baliknya
- Curug Awang, dijuluki Niagara kecil Sukabumi
- Curug Puncak Manik, terkenal dengan pelangi alami dari semburan airnya
Sungai-sungai besar seperti Ciletuh, Cimarinjung, Ciselang, dan Cihuni juga punya peran ganda. Selain menciptakan air terjun yang indah, mereka juga mengairi ribuan hektar sawah warga. Jadi bukan sekadar cantik, tapi juga produktif secara ekonomi.
4. PLTB Ciemas, Proyek Energi Angin Terbesar Asia yang Masih Terganjal
Ini yang paling bikin Saya excited tapi sekaligus was-was. Kawasan Ciemas, termasuk wilayah Desa Girimukti dan Mekarjaya yang masuk kecamatan ini, dipilih sebagai lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan kapasitas target 150 Megawatt. Kalau jadi, ini akan melampaui kapasitas PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan yang selama ini jadi yang terbesar di Indonesia.
Kenapa Ciemas? Karena kualitas energi anginnya stabil sepanjang tahun, sudah dikonfirmasi lewat kajian teknis mendalam. Secara visual, turbin-turbin raksasa di perbukitan dengan latar Teluk Ciletuh juga diproyeksikan jadi daya tarik wisata baru yang ikonik.
| Aspek PLTB Ciemas | Detail |
|---|---|
| Kapasitas Target | 150 Megawatt (MW) |
| Jumlah Turbin | 50 Unit |
| Tenaga Kerja Konstruksi | Sekitar 1.000 orang |
| Tenaga Kerja Operasional | Sekitar 300 orang |
| Status | Proyek Strategis Nasional, masih terkendala regulasi |
5. Ekonomi Lokal Bergerak, Dari Keripik Mangga Sampai Produk Limbah Pantai
Satu hal yang Saya apresiasi dari Ciemas adalah kreativitas warganya dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Bukan sekadar menunggu investasi besar dari luar, mereka mulai membangun ekonomi dari apa yang ada di sekitar mereka.
Petani di sini sudah mulai mengolah mangga menjadi keripik dengan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding menjual buah segar. Ada juga komunitas yang menangkap wisata edukasi dengan mengajak pengunjung mengenal budidaya Hanjeli, tanaman pangan tradisional yang dipanen dengan teknik kuno menggunakan etem (ani-ani) dan ditumbuk di lisung. Wisatanya berakhir dengan makan nasi liwet hanjeli bersama. Menurut Saya itu paket wisata yang sangat bernilai dan susah ditiru tempat lain.
Yang bikin Saya kagum lagi adalah warga di Desa Ciwaru yang mengolah limbah kayu dan bambu dari pantai menjadi perlengkapan minum seperti teko dan gelas unik. Produknya sudah dipasarkan sampai ke Karawang dan Bogor. Dari limbah pantai jadi produk bernilai, itu bukan hal kecil.
6. Kampung Nelayan Merah Putih dan Potensi Laut yang Sedang Dibangun
Ciemas berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, dan selama ini potensi lautnya belum digarap optimal. Tapi itu sedang berubah. Pemerintah sedang menyelesaikan pembangunan "Kampung Nelayan Merah Putih" di Desa Ciwaru, sebuah fasilitas terpadu yang dirancang untuk mengangkat kesejahteraan nelayan lokal.
Fasilitasnya cukup serius. Ada cold storage untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan, tempat pelelangan ikan modern, dan penguatan kelembagaan melalui Koperasi Nelayan Merah Putih. Kalau ini berjalan baik, nelayan di Ciemas tidak lagi sekadar menjual ikan segar di pinggir pantai dengan harga yang dipermainkan tengkulak.
Di sisi lain, ada juga inisiatif konservasi mangrove di muara sungai dan perlindungan penyu hijau di pesisir. Dua hal itu berjalan beriringan, bukan saling meniadakan. Menurut Saya, model seperti ini yang idealnya jadi contoh bagi kawasan pesisir lain di Indonesia.
7. Dana Desa dan Transparansi, Isu yang Menggoyang Kepercayaan Warga
Saya tidak mau hanya nulis yang bagus-bagusnya. Pada Maret 2025, kantor Desa Ciemas sempat disegel oleh warga terkait dugaan masalah transparansi penggunaan Dana Desa sebesar Rp 128 juta. Ini bukan isu kecil dan memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa.
Konflik itu akhirnya diselesaikan melalui mediasi pihak kepolisian dan tercapainya kesepakatan damai. Tapi kejadian ini mengingatkan Saya betapa pentingnya akuntabilitas di tingkat desa, terutama di kawasan yang sedang tumbuh pesat seperti Ciemas. Investasi pariwisata dan energi dari luar akan sia-sia kalau tata kelola di tingkat akar rumputnya masih bermasalah.
Sisi positifnya, ada organisasi seperti PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) yang aktif menjadi jembatan antara kepentingan konservasi UNESCO dan kebutuhan ekonomi warga. Peran civil society seperti ini, menurut Saya, jadi penyeimbang yang sangat diperlukan di kawasan dengan tekanan pembangunan sebesar Ciemas.
FAQ Seputar Desa Ciemas Sukabumi
Akhir Kata
Jadi, intinya Desa Ciemas dan kawasan Kecamatan Ciemas adalah wilayah yang sedang dalam proses transformasi besar dari segala arah, pariwisata dunia, energi terbarukan, pengembangan ekonomi lokal, dan juga ujian integritas tata kelola pemerintahan. Dari pengalaman Saya menelaah berbagai profil kawasan seperti ini, yang paling menentukan bukan potensi alamnya, tapi seberapa kuat fondasi sosial dan kelembagaannya untuk menyangga semua pertumbuhan itu. Ciemas punya semua potensi yang dibutuhkan, tinggal pertanyaannya bagaimana mengelolanya dengan bijak. Artikel tentang Desa Ciemas ini hopefully bisa ngasih Anda gambaran yang lebih jelas. Kalau ada pertanyaan atau pengalaman serupa, feel free buat komen di bawah ya!
Baca artikel lainnya, cek aja di Sitemap.
Posting Komentar