7 Fakta Desa Tamanjaya yang Jarang Diketahui
PoinTru.com - Kalau ada satu desa di Sukabumi yang perjalanannya dari kampung terpencil di tengah hutan alang-alang sampai jadi pusat geopark kelas UNESCO, itu adalah Desa Tamanjaya. Saya pertama kali membaca soal desa ini dan langsung tertarik, karena ceritanya bukan sekadar soal wisata cantik tapi soal bagaimana sebuah komunitas kecil berhasil mengubah nasib wilayahnya secara dramatis. Di artikel ini Saya kumpulkan 7 fakta paling menarik tentang Desa Tamanjaya yang menurut Saya wajib Anda ketahui.
7 Fakta Desa Tamanjaya yang Bikin Saya Makin Kagum
1. Dulunya Kampung Cirameng, Namanya Ganti Karena Filosofi Mendalam
Sebelum dikenal sebagai Tamanjaya, desa ini adalah Kampung Cirameng. Nama lama itu sebenarnya diusulkan untuk dipertahankan sebagai identitas historis, tapi perdebatan di Lembaga Musyawarah Desa akhirnya melahirkan nama baru yang lebih penuh makna.
Nama "Tamanjaya" dipilih karena mengandung filosofi "Taman Abadi", mencerminkan harapan agar desa ini menjadi tanah yang subur dan makmur bagi para petani. Bukan nama yang dipilih asal-asalan, ini hasil musyawarah panjang yang melibatkan tokoh masyarakat dan perwakilan dinas. Resminya nama itu mulai dipakai tahun 1976, setahun setelah pemekaran dari Desa Mekarjaya.
Menurut Saya, nama sebuah tempat yang lahir dari proses seperti ini punya bobot berbeda. Ada niat dan harapan kolektif di baliknya. Dan dalam kasus Tamanjaya, harapan itu perlahan terbukti.
2. Tahun 1985 Mengubah Segalanya, Ibu Kota Kecamatan Pindah ke Sini
Ini titik balik terbesar dalam sejarah desa. Tahun 1985, kantor Kecamatan Ciemas yang sebelumnya ada di daerah Cigaru dipindahkan ke Tamanjaya. Dampaknya langsung terasa, dari yang tadinya desa agraris biasa, Tamanjaya naik kelas jadi pusat pemerintahan distrik.
Infrastruktur mulai masuk. Jalan diperbaiki. Dan puncaknya, tahun 1998 listrik akhirnya masuk desa melalui program Listrik Masuk Desa. Buat yang belum pernah merasakan hidup tanpa listrik di pelosok, momen seperti itu bukan sekadar pembangunan fisik, tapi perubahan kualitas hidup yang nyata bagi ribuan keluarga.
| Tahun | Peristiwa Penting di Desa Tamanjaya |
|---|---|
| Pra-1970 | Dikenal sebagai Kampung Cirameng, terisolasi |
| 1975 | Pemekaran resmi dari Desa Mekarjaya |
| 1976 | Nama "Tamanjaya" resmi digunakan |
| 1985 | Ibu kota Kecamatan Ciemas pindah ke Tamanjaya |
| 1990 | Pasar desa dibangun, perdagangan makin aktif |
| 1998 | Listrik masuk desa |
| 2018 | Kawasan Ciletuh resmi jadi UNESCO Global Geopark |
3. Luas Terkecil di Ciemas, Tapi Kepadatan Penduduknya Tinggi
Ini fakta yang cukup mengejutkan. Tamanjaya punya luas wilayah sekitar 1.372 hektar, dan itu menjadikannya desa dengan wilayah terkecil di Kecamatan Ciemas. Bandingkan dengan Desa Mekarjaya yang luasnya bisa mencapai 8.768 hektar. Beda jauh banget.
Tapi jumlah penduduknya sekitar 6.531 jiwa, dengan kepadatan 2,00 jiwa per hektar. Itu cukup tinggi untuk ukuran desa di kawasan perbukitan selatan Sukabumi. Kenapa bisa begitu padat? Karena statusnya sebagai pusat kecamatan menarik lebih banyak aktivitas ekonomi dan permukiman.
| Nama Desa | Luas (Ha) | Jumlah Penduduk | Kepadatan (Jiwa/Ha) |
|---|---|---|---|
| Ciwaru | 1.596 | 8.188 | 5,13 |
| Mekarjaya | 3.768 | 8.056 | 2,14 |
| Tamanjaya | 1.372 | 6.531 | 2,00 |
| Mandrajaya | 4.859 | 4.739 | 0,98 |
| Girimukti | 3.050 | 3.880 | 1,27 |
4. Berada di Jantung Amfiteater Ciletuh, Formasi Batuan Tertua di Jawa
Nah, ini yang bikin Saya benar-benar terkesan dari sisi geologi. Desa Tamanjaya tidak sekadar dekat geopark, tapi berada tepat di dalam "Mega Amfiteater" Ciletuh, sebuah bentang alam berbentuk tapal kuda raksasa berukuran sekitar 15x8 kilometer yang terbuka ke arah Teluk Ciletuh.
Amfiteater ini terbentuk bukan karena erosi biasa, tapi melalui proses keruntuhan gravitasi besar-besaran di awal era Miosen jutaan tahun lalu. Sebagian besar dataran tinggi Jampang di atas Tamanjaya runtuh ke arah laut, meninggalkan dinding tebing curam yang sekarang jadi lokasi munculnya puluhan air terjun eksotis. Batuan di sini termasuk yang tertua di Pulau Jawa, ada Peridotit, Serpentinit, Plagiogranit, dan Gabro yang menjadi bukti proses subduksi purba.
Secara topografi, desa ini terbagi dua, bagian atas di ketinggian sekitar 400 mdpl untuk Dusun Tamanjaya dan Cicurug, serta bagian bawah di kaki tebing untuk Dusun Ciseureuh dan Pasirbaru. Warga di bagian bawah sebetulnya bermigrasi ke sana karena lahan di atas sudah terbatas.
5. Curug Awang, Curug Tengah, Sampai Puncak Darma, Semua Ada di Sini
Kalau Anda datang ke kawasan Geopark Ciletuh, hampir dipastikan Anda akan melewati atau mampir ke destinasi yang secara administratif ada di wilayah Tamanjaya atau berbatasan langsung dengannya. Jumlahnya lumayan banyak dan kualitasnya memang kelas dunia.
- Curug Awang, sering disebut sebagai "Niagara-nya Sukabumi" karena dinding batu pasirnya yang lebar dan megah
- Curug Tengah, air terjun bertingkat yang menawarkan panorama berlapis di antara Curug Awang dan Puncak Manik
- Curug Puncak Manik, air terjun tertinggi di kawasan ini dengan tampilan vertikal yang dramatis
- Puncak Darma, titik tertinggi di kawasan geopark sekitar 230 mdpl, dengan view ke seluruh amfiteater dan pantai
- Bukit Panenjoan, lokasi terbaik untuk melihat tapal kuda Amfiteater Ciletuh secara utuh dari atas
Pasca status UNESCO Global Geopark tahun 2018, jumlah kunjungan wisatawan naik hampir dua kali lipat dengan pertumbuhan sekitar 55% per tahun. Homestay di desa ini juga ikut tumbuh signifikan, naik sekitar 80% dalam setahun setelah pengakuan UNESCO. Efek bergandanya nyata banget bagi ekonomi warga.
6. Produk Lokal Tamanjaya Punya Kelas, Dari Gula Merah Sampai Cobek Batu Sungai
Ini yang Saya suka dari Tamanjaya. Pariwisata berkembang, tapi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal juga ikut tumbuh, bukan tenggelam. Desa ini aktif mengembangkan produk-produk unggulan yang memanfaatkan sumber daya alam setempat.
Gula merah adalah yang paling menonjol. Sukabumi memang dikenal sebagai produsen gula merah terbesar di Jawa Barat, dan Tamanjaya berkontribusi langsung dalam rantai pasok itu. Produk pengrajin lokal bahkan sudah menyentuh pasar organik internasional. Luar biasa untuk skala desa.
Ada juga kerajinan cobek dan ulekan dari batu sungai dan batuan vulkanik khas Ciletuh, kerajinan bambu dan kayu, serta pengolahan singkong menjadi produk makanan ringan melalui BUMDes. Hambatan terbesarnya saat ini ada di pemasaran digital, banyak pengrajin belum familiar dengan online shop. Program KKN dari UGM dan Universitas Nusa Putra sudah mulai membantu, tapi masih butuh kerja keras lebih.
7. SPBU Baru dan Jalan Rusak, Infrastruktur yang Masih Jadi PR Besar
Maret 2023, SPBU pertama di Tamanjaya resmi beroperasi. Kedengarannya sepele, tapi buat warga dan wisatawan di kawasan terpencil ini, itu kabar besar. Sebelum ada SPBU, bahan bakar harus didatangkan dari jauh dengan biaya dan waktu yang tidak efisien.
Tapi jalan? Ini masih jadi masalah yang belum tuntas. Ruas jalan Pal 3 menuju Tamanjaya sering rusak parah akibat kendaraan truk kontainer bermuatan berat dari perusahaan tambang yang melintas tanpa izin memadai. Bukan cuma soal kenyamanan wisatawan, tapi juga soal keselamatan, karena ada jembatan di jalur itu yang mulai retak akibat beban berlebih.
Saya rasa ini ironi yang perlu disoroti lebih serius. Di satu sisi Tamanjaya punya status geopark UNESCO yang menarik wisatawan internasional, tapi di sisi lain infrastruktur jalannya masih digerus oleh aktivitas industri yang tidak bertanggung jawab. Dua hal itu tidak bisa berjalan beriringan dalam jangka panjang.
| Infrastruktur | Status |
|---|---|
| Puskesmas Tamanjaya | Aktif, jadi rujukan medis kecamatan dan wisatawan |
| SPBU Desa Tamanjaya | Beroperasi sejak Maret 2023 |
| Jaringan Listrik | 90% terjangkau, penerangan jalan masih kurang |
| Akses Jalan | Rusak di beberapa titik akibat kendaraan overload |
| Telekomunikasi | Pertumbuhan akses hingga 40% sejak 2018 |
FAQ Seputar Desa Tamanjaya Ciemas
Akhir Kata
Jadi, intinya Desa Tamanjaya bukan sekadar desa transit menuju air terjun cantik di Geopark Ciletuh. Desa ini punya sejarah yang kaya, geologi yang luar biasa, produk lokal yang potensial, sekaligus tantangan infrastruktur yang nyata dan belum selesai. Dari pengalaman Saya menelusuri profil desa-desa di kawasan ini, Tamanjaya adalah yang paling lengkap ceritanya, dari paling sederhana di masa lalu sampai paling ambisius di masa depan. Artikel tentang Desa Tamanjaya ini hopefully bisa ngasih Anda gambaran yang lebih jelas. Kalau ada pertanyaan atau pengalaman serupa, feel free buat komen di bawah ya!
Baca artikel lainnya, cek aja di Sitemap.
Posting Komentar