Nostalgia Mudik Tahun 90-an vs 2026 (Mana yang Lebih Seru?)
Kadang kalau lagi macet di tol Cipali, pikiran saya melayang ke masa lalu. Masa di mana mudik itu adalah petualangan epik tanpa Google Maps, tanpa AC dingin, dan tanpa HP.
Anak zaman sekarang (Gen Alpha) mungkin tidak akan pernah merasakan sensasi mudik tahun 90-an yang penuh drama tapi ngangenin. Mari kita bandingkan dengan kemudahan yang kita nikmati di Lebaran 2026 ini.
Peta Kertas vs Waze
Dulu Bapak saya adalah navigator handal bermodalkan peta lipat lusuh yang robek di ujungnya. "Habis ini belok kanan, ada tugu botol kecap!" teriak beliau. Kalau nyasar? Ya tanya tukang becak. Itu seni interaksi sosial yang hilang.
Sekarang? Suara mbak-mbak Google yang datar memandu kita. "Di 200 meter, belok kiri." Akurat sih, tapi dingin. Tidak ada lagi momen debat seru antara Bapak dan Ibu soal jalan tikus mana yang lebih cepat.
Kaset Pita vs Spotify
Perjalanan 12 jam butuh soundtrack. Dulu kita bawa satu tas isi kaset pita. Kaset Koes Plus, Nike Ardilla, sampai Rhoma Irama diputar bolak-balik sampai pitanya kusut. Kalau kusut, kita putar pakai pensil.
Anak sekarang tinggal teriak, "Hey Google, play Taylor Swift." Jutaan lagu ada di ujung jari. Praktis banget, tapi kok rasanya kurang "berjuang" ya?
Makan di Warung vs Rest Area Mewah
Dulu kita makan menggelar tikar di pinggir sawah atau mampir di warung tegal sembarangan yang ternyata harganya "nembak". Tapi rasa makanannya otentik. Sambalnya pedas asli.
Sekarang rest area isinya franchise kopi mahal dari Amerika. Tempatnya nyaman, AC dingin, toilet bersih. Tapi rasanya semua jadi seragam. Tidak ada kejutan rasa lokal lagi.
Refleksi
Apakah mudik dulu lebih baik? Tidak juga. Macetnya dulu itu horor tanpa ampun. Mobil mogok itu biasa. Tapi kenangannya itu lho, melekat sampai tua.
Tahun 2026 ini, mari kita syukuri jalan tol yang mulus, tapi jangan lupa ciptakan cerita seru bareng keluarga. Matikan gadget sebentar, dan ngobrol lah seperti dulu.
Posting Komentar