Alasan Pengajuan KUR Ditolak yang Sering Luput

Daftar Isi
Ilustrasi pelaku UMKM yang kecewa karena pengajuan KUR ditolak oleh bank

PoinTru.com - Tiga minggu lalu, Saya ketemu Pak Agus di warung kopi. Mukanya kusut banget. "Mas, pengajuan KUR saya ditolak lagi. Padahal usaha saya jalan terus, lancar-lancar aja," keluhnya sambil ngaduk kopi yang udah dingin. Ini kasus ketiga yang dia alami dalam setahun terakhir. Frustrasi? Pasti.

Yang bikin miris, Pak Agus bukan kasus tunggal. Dari pengamatan Saya, hampir 60 persen pelaku UMKM yang ngajuin KUR mengalami penolakan di attempt pertama mereka. Padahal usahanya oke, omzetnya stabil, tapi tetep aja ditolak. Kenapa sih ini bisa terjadi? Apakah bank sengaja mempersulit? Atau ada yang salah dari persiapan kita?

Kisah di Balik Layar Penolakan KUR

Beberapa bulan lalu, Saya berkesempatan ngobrol panjang sama seorang analis kredit di salah satu bank BUMN. Dia cerita kalau sebenarnya bank itu pengen banget menyalurkan KUR. Kenapa? Ya karena ada target dari pemerintah, plus ini bagian dari program pemberdayaan UMKM. Tapi masalahnya, banyak pengajuan yang datang itu tidak memenuhi kriteria dasar.

"Mas, kadang saya sedih juga harus nolak. Tapi aturan ya aturan. Kalau dipaksain ACC terus macet, yang repot ya saya juga," ujarnya dengan nada menyesal. Nah, dari sini Saya mulai paham bahwa penolakan itu bukan semata-mata karena bank pelit atau usahanya jelek. Ada faktor teknis yang sering banget diabaikan sama pemohon.

Tahukah Anda? Sekitar 40% pengajuan KUR ditolak bukan karena usahanya buruk, tapi karena kelengkapan dokumen dan riwayat kredit bermasalah.

Biang Keladi Pertama - Riwayat Kredit yang Bermasalah

Ini dia penyebab nomor satu kenapa pengajuan KUR ditolak. SLIK atau yang dulu dikenal sebagai BI Checking. Saya nggak bisa lebih menekankan betapa pentingnya ini. Bank itu punya sistem yang langsung terhubung ke database OJK, jadi mereka bisa tau semua jejak kredit Anda dalam hitungan detik.

Yang sering kejadian adalah orang nggak sadar kalau mereka punya tunggakan di sistem. Mungkin dulu pernah telat bayar cicilan motor 4 bulan, atau pinjol yang lupa dilunasi, atau bahkan kartu kredit yang overdue. Semua itu tercatat rapi. Dan bank sangat-sangat sensitif sama hal ini, terutama kalau kolektibilitasnya udah di atas Kol 1.

Dari yang Saya amati, bank akan langsung reject kalau ada tunggakan lebih dari 90 hari dalam 2 tahun terakhir. Bahkan kalau tunggakan itu udah lunas sekalipun, record-nya tetep ada dan jadi pertimbangan. Makanya jangan heran kalau tiba-tiba pengajuan KUR ditolak padahal Anda merasa nggak pernah nunggak apapun. Coba cek lagi, siapa tau ada yang kelewat.

Status SLIKKeteranganDampak Pengajuan KUR
Kol 1 (Lancar)Pembayaran tepat waktuPeluang ACC tinggi
Kol 2 (DPK)Tunggakan 1-90 hariButuh penjelasan khusus
Kol 3-5Tunggakan >90 hariHampir pasti ditolak

Usaha yang Nggak Jelas atau Baru Berjalan

Nah, ini kesalahan kedua yang sering banget terjadi. Banyak orang yang baru mulai usaha sebulan dua bulan langsung ngajuin KUR. Atau lebih parah lagi, usahanya masih di fase ide, belum jalan sama sekali. Terus berharap bank bakal kasih modal.

Sorry to break it to you, tapi KUR itu bukan modal awal buat starting business. Ini adalah kredit untuk pengembangan usaha yang sudah berjalan. Umumnya bank mensyaratkan usaha minimal udah jalan 6 bulan efektif. Dan ini bukan cuma dokumen aja lho, mereka akan survey ke lokasi usaha Anda.

Saya pernah denger cerita lucu sekaligus miris. Ada yang ngajuin KUR dengan alamat usaha di rumah, tapi pas surveyor datang ternyata rumahnya kosong melompong. Nggak ada tanda-tanda kegiatan usaha sama sekali. Ya jelas ditolak dong. Bank butuh bukti nyata kalau usaha Anda benar-benar exist dan produktif.

  • Usaha harus sudah berjalan minimal 6 bulan
  • Ada bukti fisik kegiatan produksi atau perdagangan
  • Stok barang atau peralatan usaha terlihat jelas
  • Lokasi usaha sesuai dengan yang tertera di dokumen
  • Sebaiknya sudah punya legalitas seperti NIB

Cash Flow yang Berantakan

Ini yang ketiga dan menurut Saya pribadi, ini adalah jantungnya penilaian kredit. Bank itu nggak peduli seberapa gede omzet Anda kalau cash flow-nya amburadul. Yang mereka lihat adalah kemampuan bayar angsuran tiap bulan dengan konsisten.

Ada rumus sederhana yang biasa bank pakai. Angsuran bulanan maksimal 30 sampai 40 persen dari pendapatan bersih. Kalau lebih dari itu, mereka akan khawatir Anda kesulitan bayar. Dan ini makes sense sih menurut Saya, karena Anda masih butuh sisa 60-70 persen buat operasional usaha dan kebutuhan hidup.

Nah, yang jadi masalah adalah banyak UMKM yang nggak punya catatan keuangan yang rapi. Uang usaha campur sama uang pribadi. Rekening cuma satu buat semua keperluan. Pas ditanya sama bank berapa pendapatan bersih per bulan, jawabnya ngasal atau nggak bisa buktiin. Ya gimana mau di-ACC?

Tips dari Saya, pisahkan rekening usaha dan pribadi sejak sekarang. Bikin pembukuan sederhana walau cuma di buku tulis. Ini akan sangat membantu saat pengajuan kredit.

Domisili yang Nggak Konsisten

Poin keempat ini sering dianggep sepele padahal fatal. Alamat di KTP beda sama alamat di KK, terus alamat tempat tinggal sekarang beda lagi. Bank langsung curiga. Kenapa? Karena mereka butuh kepastian kalau Anda mudah dihubungi dan punya keterikatan kuat di suatu area.

Dari beberapa kasus yang Saya temui, pengajuan KUR ditolak gara-gara hal ini lebih sering terjadi pada pendatang atau yang sering pindah-pindah tempat tinggal. Bank prefer pemohon yang punya tempat tinggal tetap dan stabil, idealnya rumah sendiri. Tapi kalau ngontrak atau sewa juga nggak masalah, asalkan ada surat perjanjian sewa yang jelas dan menunjukkan Anda udah tinggal di situ cukup lama.

Oh iya, satu lagi yang penting. Pastiin alamat usaha Anda juga konsisten dengan data yang Anda submit. Kalau di form ngisi alamat usaha A, tapi pas survey ternyata usahanya di alamat B, ya bakal bermasalah. Bank akan mikir Anda nggak jujur atau usahanya nggak permanen.

Salah Alokasi Penggunaan Dana

Yang terakhir ini sebenarnya lebih ke tahap wawancara atau survey, tapi dampaknya besar banget. Banyak orang yang salah jawab pas ditanya mau dipake buat apa dana KUR-nya. Jawaban yang fatal misalnya buat renovasi rumah, beli mobil pribadi, atau bayar utang konsumtif lainnya.

Ingat ya, KUR itu Kredit Usaha Rakyat. Kata kuncinya adalah USAHA. Jadi dana yang Anda pinjam harus murni buat keperluan produktif yang bisa ningkatin cash flow usaha. Misalnya beli stok barang, upgrade peralatan produksi, sewa tempat usaha yang lebih strategis, atau ekspansi bisnis.

Saya pernah denger ada yang jujur banget bilang mau renovasi rumah pake dana KUR. Alasannya karena rumahnya juga dipake buat usaha. Sounds logic ya? Tapi tetep aja ditolak. Kenapa? Karena renovasi rumah itu nggak langsung ningkatin omzet usaha. Bank nggak bisa liat hubungan langsung antara renovasi dengan peningkatan profit.

PENTING! Jangan pernah bilang mau pakai KUR untuk keperluan konsumtif walau sebagian. Bank akan langsung reject tanpa pikir panjang.

Kesalahan Fatal Lain yang Jarang Disadari

Selain lima poin utama tadi, ada beberapa kesalahan kecil tapi dampaknya besar yang sering luput dari perhatian. Misalnya dokumen yang nggak lengkap atau kadaluarsa. Anda udah dateng ke bank, udah antri, eh ternyata NPWP-nya expired atau PBB belum dibayar sampai tahun ini.

Terus ada lagi nih yang sering kejadian. Ngajuin KUR padahal masih punya pinjaman KUR lain yang belum lunas. Ingat, satu Kartu Keluarga cuma bisa punya satu saluran KUR aktif. Kalau Anda atau pasangan masih punya KUR yang jalan, ya nggak bisa apply lagi. Harus lunasin dulu yang lama.

Oh iya, soal pasangan ini juga penting. SLIK pasangan juga dicek lho! Saya pernah tau kasus pengajuan ditolak karena ternyata istrinya punya tunggakan kartu kredit. Padahal yang apply suami dan usahanya atas nama suami. Tapi karena satu KK, ya tetep kena dampaknya.

Cara Meningkatkan Peluang ACC

Setelah tau semua penyebab penolakan, sekarang gimana dong cara biar peluang ACC-nya gede? Dari pengalaman Saya mendampingi beberapa pelaku UMKM, ada beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan.

Pertama, cek SLIK Anda dan pasangan minimal 1 bulan sebelum apply. Download di idebku.ojk.go.id, lihat ada masalah nggak. Kalau ada tunggakan, segera beresin. Kalau udah bersih, baru mulai proses pengajuan. Jangan buru-buru.

Kedua, rapikan semua dokumen administrasi. Pastiin KTP, KK, Buku Nikah, NPWP, dan PBB semuanya valid dan up to date. Bikin fotokopi sesuai kebutuhan, jangan ngasih dokumen asli kecuali diminta. Ketiga, siapkan pembukuan usaha walau sederhana. Minimal 3 bulan terakhir sudah tercatat dengan rapi.

Keempat, jujur saat wawancara. Jangan lebay ngasih angka omzet atau pendapatan. Bank punya cara sendiri buat verifikasi. Lebih baik ngasih angka konservatif tapi bisa dibuktiin daripada ngasih angka gede tapi nggak ada buktinya. Kelima, pastiin usaha Anda benar-benar jalan saat survey. Jangan sampai pas surveyor datang, toko tutup atau nggak ada kegiatan.

PersiapanTimelineAction Item
Cek SLIK1 bulan sebelumDownload dan perbaiki jika ada masalah
Dokumen2 minggu sebelumLengkapi dan validasi semua persyaratan
Pembukuan3 bulan rutinCatat pemasukan dan pengeluaran
LegalitasSegeraUrus NIB jika belum punya

Apa yang Harus Dilakukan Kalau Sudah Ditolak

Nah, gimana kalau Anda udah terlanjur ditolak? Jangan langsung nyerah atau malah emosi. Ada beberapa langkah yang bisa diambil. Pertama, tanya ke pihak bank alasan spesifik penolakannya apa. Jangan cuma terima jawaban umum kayak "belum memenuhi syarat". Minta penjelasan detail.

Kalau ternyata masalahnya di SLIK, ya beresin dulu SLIK-nya. Lunasin semua tunggakan, tunggu minimal 3-6 bulan sampai statusnya bersih, baru apply lagi. Kalau masalahnya di kelengkapan dokumen, ya lengkapin dulu. Kalau masalahnya di cash flow, tunggu sampai usaha lebih stabil dan bisa nunjukin track record yang lebih baik.

Jangan apply ke bank yang sama dalam waktu dekat setelah ditolak. Kasih jeda minimal 3 bulan. Atau coba apply ke bank lain, siapa tau penilaiannya beda. Tapi ingat, tetep benerin dulu akar masalahnya ya. Jangan asal coba-coba tanpa perbaikan.

Mindset yang Perlu Diluruskan

Sebelum nutup, Saya mau ngasih satu perspektif yang mungkin agak berbeda. Banyak orang yang nganggep penolakan KUR sebagai kegagalan atau aib. Padahal nggak gitu juga. Penolakan itu feedback dari bank bahwa ada aspek dari usaha atau administrasi Anda yang perlu diperbaiki.

Dari pengalaman Saya, pelaku UMKM yang pernah ditolak tapi kemudian belajar dan perbaiki kelemahannya, mereka justru jadi lebih solid ketika akhirnya dapet KUR. Mereka lebih disiplin dalam pembukuan, lebih aware sama pentingnya riwayat kredit yang bersih, dan lebih serius dalam mengelola usaha.

Jadi kalau pengajuan KUR Anda ditolak, jangan berkecil hati. Liat ini sebagai kesempatan buat introspeksi dan upgrade kapasitas Anda sebagai pengusaha. Benerin yang perlu dibenerin, strengthen yang masih lemah, terus coba lagi dengan persiapan yang lebih matang.

Remember, penolakan bukan akhir segalanya. Ini cuma detour dalam perjalanan Anda menuju kesuksesan usaha.

Akhir Kata

Jadi, intinya pengajuan KUR ditolak itu bukan semata-mata karena bank pelit atau usaha Anda jelek. Lebih sering karena ada aspek teknis yang terlewat, mulai dari SLIK bermasalah, usaha yang belum cukup matang, cash flow yang berantakan, domisili yang nggak konsisten, sampai salah alokasi penggunaan dana. Dari pengalaman Saya mendampingi berbagai kasus, yang paling penting adalah persiapan matang dan kejujuran dalam setiap tahap proses pengajuan. Artikel tentang kenapa pengajuan KUR ditolak ini hopefully bisa ngasih Anda gambaran yang lebih jelas tentang apa yang harus dibenerin dan dihindari. Kalau ada pertanyaan atau pengalaman serupa yang mau dishare, feel free buat komen di bawah ya!

Baca artikel lainnya, cek aja di Sitemap.

Posting Komentar

Baca Juga Artikel Terbaru

Memuat artikel...