![]()
PoinTru.com – Saya mau cerita sesuatu yang bikin Saya paranoid belakangan ini. Beberapa minggu lalu, Saya baca berita soal penipuan QRIS palsu yang modusnya menempel stiker baru di atas kode QR asli milik pedagang. Uang yang seharusnya masuk ke rekening si pedagang, malah nyasar ke rekening penipu. Sebagai Agen BRILink yang juga pasang QRIS di tempat usaha, Saya langsung refleks ngecek stiker QRIS Saya sendiri. Untungnya masih aman. Tapi jujur, Saya jadi was-was.
Modus Penipuan QRIS yang Sedang Marak
Dari yang Saya baca di berbagai sumber berita dan info dari Bank Indonesia, setidaknya ada dua modus besar penipuan QRIS yang paling sering terjadi. Keduanya memanfaatkan kelengahan merchant, dan sayangnya korbannya kebanyakan pedagang kecil yang nggak sempat ngecek detail transaksi karena sibuk melayani pembeli.
Sticker Swapping, Tempel Stiker di Atas Stiker
Ini modus yang paling terkenal. Pelaku datang ke tempat usaha, pura-pura jadi pembeli atau bahkan pura-pura jadi petugas bank, lalu diam-diam menempel stiker QRIS baru di atas kode QR asli milik merchant. Stiker palsu ini mengarahkan pembayaran ke rekening pelaku.
Kasus paling heboh terjadi di April 2023. Seorang mantan pegawai bank bernama M. Iman Mahlil Lubis ditangkap Polda Metro Jaya setelah menempelkan QRIS palsu di 38 lokasi, termasuk Masjid Istiqlal dan Blok M Square. Bayangkan, uang donasi yang harusnya masuk ke masjid malah masuk ke kantong penipu. Saya baca berita ini di detikNews dan langsung merinding.
Yang bikin modus ini efektif, pelaku sering pakai nama merchant yang mirip banget dengan aslinya. Misalnya nama yayasan atau masjid yang cuma beda satu dua huruf. Pembeli yang terburu-buru nggak bakal sadar kalau nama di layar HP-nya sedikit berbeda.
Modus QRIS Transfer, Menguras Saldo Merchant
Nah, ini modus yang lebih canggih dan menurut Saya lebih berbahaya. Pelaku menghubungi merchant, biasanya lewat telepon atau WhatsApp, dan meminta merchant untuk menunjukkan atau mengirimkan kode “QR Bayar” miliknya. Alasannya macem-macem, bisa bilang mau verifikasi data atau mau bantu proses pembayaran.
Masalahnya, QR Bayar itu fungsinya kebalikan dari QR yang biasa dipasang di meja. Kalau QR yang dipasang di meja itu untuk terima uang, QR Bayar justru untuk mengeluarkan uang. Jadi begitu pelaku scan QR Bayar milik merchant, saldo merchant yang justru terpotong.
Saya sendiri hampir kena modus mirip ini. Ada orang yang chat via WhatsApp ngaku dari pihak bank dan minta Saya kirim foto kode tertentu dari aplikasi. Untungnya Saya curiga dan nggak kasih. Dari pengalaman itu, Saya jadi lebih hati-hati.
| Modus Penipuan | Cara Kerja | Target Utama | Tingkat Bahaya |
|---|---|---|---|
| Sticker Swapping | Menempel stiker QRIS palsu di atas kode QR asli | Tempat ibadah, warung, toko kecil | Tinggi |
| QRIS Transfer | Meminta merchant menunjukkan QR Bayar untuk menguras saldo | Merchant yang kurang paham fitur QRIS | Sangat Tinggi |
| Screenshot Palsu | Menunjukkan bukti transfer palsu yang sudah diedit | Pedagang sibuk yang tidak cek notifikasi | Sedang |
Angka-angka yang Bikin Geleng Kepala
Kalau Anda pikir kasus penipuan QRIS ini cuma satu dua, Anda salah besar. Data dari OJK yang dilansir Antara News menunjukkan total kerugian terkait scam dan fraud, termasuk QR fraud, mencapai Rp2,5 triliun dari 155 ribu aduan antara tahun 2022 hingga kuartal pertama 2024. Angka itu gila sih kalau dipikir-pikir.
Sementara itu, jumlah pengguna QRIS per Juli 2024 sudah tembus 50,50 juta dengan total merchant sebanyak 32,71 juta. Data ini disampaikan langsung oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Pertumbuhan transaksi QRIS juga tercatat naik 226,54 persen secara tahunan pada triwulan kedua 2024.
Semakin banyak pengguna dan merchant, semakin besar juga “pasar” buat para penipu. Logikanya sesederhana itu.
Cara Melindungi Usaha Anda dari Penipuan QRIS
Setelah baca-baca banyak sumber dna juga dari pengalaman Saya sendiri sebagai pelaku usaha kecil, ada beberapa langkah yang menurut Saya wajib dilakukan setiap merchant.
Lindungi Stiker QRIS Secara Fisik
Ini langkah paling dasar tapi sering diabaikan. Jangan cuma nempel stiker QRIS begitu aja di meja atau dinding. Laminasi stikernya, atau lebih bagus lagi, masukin ke dalam akrilik bening yang bisa dikunci. Tujuannya supaya orang nggak bisa gampang nempel stiker lain di atasnya.
Dari pengalaman Saya yang juga punya usaha percetakan rumahan, biaya laminasi atau cetak stiker di akrilik itu nggak mahal. Paling cuma Rp10.000 sampai Rp30.000. Kecil banget dibanding potensi kerugian kalau sampai kena penipuan.
- Laminasi stiker QRIS dan tempel di tempat yang mudah Anda pantau langsung
- Kalau memungkinkan, pasang di area yang terjangkau CCTV
- Rutin cek fisik stiker setiap pagi sebelum buka, pastikan nggak ada stiker tindih
- Jangan biarkan stiker QRIS di lokasi yang jauh dari pandangan Anda, seperti di luar toko tanpa pengawasan
- Simpan foto asli stiker QRIS Anda di HP sebagai pembanding kalau suatu saat curiga ada yagn berubah
Selalu Cek Notifikasi Transaksi Masuk
Jangan pernah percaya cuma dari layar HP pembeli. Wah, ini kesalahan fatal yang Saya lihat banyak pedagang lakukan. Pembeli tunjukin layar “Pembayaran Berhasil” terus si pedagang langsung percaya tanpa ngecek apakah uangnya beneran masuk.
Aktifkan notifikasi suara di aplikasi merchant Anda. Jadi setiap ada uang masuk, ada bunyi notifikasi yang jelas terdengar. Kalau nggak ada bunyi, berarti uangnya belum masuk. Simpel tapi efektif.
Pahami Perbedaan QR Statis dan QR Bayar
Ini penting banget terutama buat merchant yang masih baru pakai QRIS. QR yang ditempel di meja itu namanya QR Statis, fungsinya untuk menerima uang. Sementara QR Bayar atau QR Dinamis yang muncul di aplikasi itu fungsinya untuk mengeluarkan uang dari saldo Anda.
Kalau ada orang yang minta Anda menunjukkan atau mengirimkan QR dari dalam aplikasi, langsung tolak. Nggak ada alasan valid buat siapapun meminta QR Bayar Anda. Entah itu ngaku petugas bank, teknisi, atau siapapun.
Kalau Sudah Terlanjur Jadi Korban
Semoga nggak terjadi, tapi kalau Anda sudah terlanjur kena penipuan QRIS, segera lakukan beberapa hal ini. Laporkan ke kepolisian terdekat dengan membawa bukti transaksi. Hubungi juga pihak bank atau PJP (Penyedia Jasa Pembayaran) tempat Anda terdaftar QRIS. Dan laporkan ke Bank Indonesia melalui kanal resmi mereka.
Simpan semua bukti, mulai dari chat WhatsApp, screenshot, rekaman CCTV kalau ada, dna catatan kronologi kejadian. Semakin lengkap buktinya, semakin besar peluang kasus Anda ditindaklanjuti.
Tetap Waspada, Tetap Belajar
Saya nulis artikel ini karena topik penipuan QRIS ini dekat banget sama keseharian Saya. Sebagai pelaku usaha kecil, Saya ngerasa perlu berbagi info ini supaya sesama pedagang dan agen nggak jadi korban. Sebagian besar informasi di sini Saya kumpulkan dari berita-berita di internet, data resmi Bank Indonesia, dan sedikit dari pengalaman pribadi. Saya bukan pakar keamanan digital, tapi Saya percaya saling mengingatkan itu penting. Kalau Anda punya pengalaman atau tips tambahan soal keamanan QRIS, tulis di kolom komentar dong. Kita jaga bareng-bareng.
Baca artikel lainnya, cek aja di Sitemap.

Penjelasannya enak dibaca, padat dan to the point gak bertele-tele kayak blog sebelah.
Awalnya sempet skeptis pas baca judulnya, tapi pas dipraktekin step by step ternyata hasilnya memuaskan.
Izin nanya gan, ini berlaku juga buat versi sebelum atau sesudahnya gak ya? Ada yang pernah coba?
Sama kak @Hendra, awalnya saya juga bingung, tapi pas dicoba pelan-pelan ternyata gampang banget dipraktekin.
@Siska mantap gan, makasih infonya, jadi makin yakin buat nyoba.
Keren ulasannya, langsung saya share ke grup wa temen-temen.
Nice share min, ilmunya sangat aplikatif.
Udah saya tes di kondisi real, efektivitas trik QRIS ini emang mantap banget.
Kalo dibandingin sama cara yang lama, metode Studi Kasus ini ada kelemahan tersendiri gak sih? Masih agak ragu nih.
Kebetulan kemarin lusa sempet nyobain langkah Modus ini, dan beneran work lancar tanpa kendala.
Bagus pembahasannya, sudut pandangnya realistis dan gampang dipahami sama orang awam sekalipun.
Dulu pernah salah kaprah soal Palsu, sekarang jadi lebih jelas arahnya setelah baca tulisan ini.
Awalnya sempet skeptis pas baca judulnya, tapi pas dipraktekin step by step ternyata hasilnya memuaskan.
Izin ninggalin jejak dulu min, materinya daging banget.
Kalo dibandingin sama cara yang lama, metode Palsu ini ada kelemahan tersendiri gak sih? Masih agak ragu nih.
@Hendra aman kok kak, tapi tetep sangat disaranin backup dulu buat jaga-jaga, biar lebih tenang ngerjainnya.
@Doni mantap gan, makasih infonya, jadi makin yakin buat nyoba.
Keren ulasannya, langsung saya share ke grup wa temen-temen.
Nice info min. Mau nanya dong, ada resiko error di tengah jalan gak pas nerapin Studi Kasus ini?
Bantu sharing ya kak @Silvia, di versi sebelumnya juga jalan kok, kemaren sempet tes di device temen dan work.
Sama kak @Silvia, awalnya saya juga bingung, tapi pas dicoba pelan-pelan ternyata gampang banget dipraktekin.
Sama kak @Silvia, awalnya saya juga bingung, tapi pas dicoba pelan-pelan ternyata gampang banget dipraktekin.
@Silvia coba periksa lagi koneksi sama settingan awalnya gan, kemarin saya juga sempet beda ternyata ada satu opsi yang belum diaktifin.
Wah pas banget lagi nyari panduan soal Penipuan. Min, kalo ada kendala pas step akhir biasanya solusinya apa ya?
Setau saya aman banget gan @Siti, saya udah jalan hampir sebulan setelah coba trik Palsu ini dan gak ada kendala sama sekali.
Ada yang udah praktekin Waspada? Kira-kira butuh waktu berapa lama ya buat proses lengkapnya?
@Laila mending pake opsi pertama dulu kak, jauh lebih ramah buat pemula dan langkahnya lebih simpel.
Bantu jawab ya kak @Laila, kemarin saya nyoba di spek pas-pasan ternyata tetep aman dan lancar kok, asal jangan sambil buka banyak aplikasi berat aja.
@Laila kalo error biasanya tinggal di-restart atau diulang dari step sebelumnya gan, gak bakal ngerusak sistem kok.
Bagus pembahasannya, sudut pandangnya realistis dan gampang dipahami sama orang awam sekalipun.
Terima kasih banyak infonya kak, ngebantu banget buat tugas saya.